Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Bahan Renungan Saya

Saya seringkali ingin menulis, tapi ternyata tidak jadi dan tiba-tiba tersendat. Umumnya ketika menulis, hambatan utama saya adalah pikiran-pikiran yang mengatakan bahwa saya tidak bisa menulis seperti ini dan seperti itu karena saya pun masih melakukan hal yang sama.  Tapi satu hal lain yang dikatakan ialah : Permulaan hikmat ialah takut akan Tuhan, ayat yang benar-benar saya sukai semenjak saya menyadari bahwa bagi diri saya sendiri, saya tidak akan sanggup menjalani kehidupan saya yang sekarang. Bagi saya, begitupun dengan menulis dan berkata-kata. Saya tidak tahu sampai mana kata-kata dan pikiran saya berdampak bagi orang lain. Tapi justru yang menjadi masalah lain adalah saya lantas kemudian berpikiran untuk bagaimana orang lain benar-benar mendengarkan saya.  Saya pernah tertegun ketika salah seorang berkata: yang penting, kita jangan memberi dari bejana yang kosong. Menganalisa setiap perkataan dan jalan pikiran orang pun jadi ha...

Ketika saya marah, saya menulis begini:

Tuhan, devi tersiksa dengan pikiran devi sendiri, devi pingin nangis tapi devi sadar bahwa devi ga boleh membiarkan kemarahan itu ada. Tersiksa karena rasa ingin memaafkan itu datang begitu cepat setelah aku mendapatkan masalah. Aku bergulat dengan pikiranku sendiri dan tidak membiarkan kemarahan itu pergi dulu. Aku tersiksa dengan pikiranku sendiri yang mengintimidasi akan saya harus begitu-begini. Apakah ini sesuai dengan kehendakMu, Bapa? Badanku bergetar karena kemarahanku atas diriku sendiri, dan berpikir apa yang harus kulakukan untuk membuat mereka sadar bahwa aku sedang marah? Aku mengasihi mereka dan ingin mereka berubah, tapi kembali lagi aku bergulat dengan pikiranku. Aku marah dan ingin orang lain berubah, tapi aku.. aku berdosa mengucapkan hal ini Tuhan. Karena hanya Roh Kuduslah yang mampu mengubahkan mereka. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Penawar kemarahan itu sangat baik bagiku (penyembahan), tapi akankah mereka memiliki kerinduan yang sama ketika merek...

Allah peduli

Banyak perkara, yang tak dapat kumengerti Mengapakah harus terjadi, di dalam kehidupan ini Satu perkara, yang kusimpan dalam hati Tiada sesuatu kan terjadi, tanpa Allah peduli Saya selalu suka lagu ini, benar-benar menenangkan saya di situasi apapun. Banyak hal yang terkadang membuat kita meragukan rancangan Tuhan dan segala sesuatu yang Dia perbuat. Lagu ini benar-benar bekerja dalam minggu saya kali ini, dimana Tuhan percayakan banyak hal buat saya. Mulai dari keluarga saya, cinta, teman-teman, kuliah, dan yang terutama, kehidupan rohani saya. Biasanya, saya menulis tidak dengan lugas dan terkadang mencari analogi untuk mendukung tulisan saya. Akan tetapi, untuk yang kali ini, saya mau tekankan dengan lugas, bahwa saya diberkati dan mendapati bagian lain dari karakter saya yang diubahkan. Minggu lalu, ketika saya bangun, saya diberi tahu bahwa nenek saya (berumur 71 tahun) muntah dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Untungnya...