Postingan

TUHAN Maha Kudus

Kembali saya tertegun atas khotbah pendeta hari ini, diambil dari Yesaya 6:1-13, bercerita tentang Yesaya yang dipanggil oleh Allah dan tugas yang diberikan kepadanya. Dari perikop ini, yang mau saya tekankan adalah ayat 3, begini firman TUHAN semesta alam:   Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemulian-Nya!” Saya tertegun sejenak dalam ruang besar itu, betapa saya selama ini tidak sadar akan ketidak-pedulian saya akan betapa besar dan megahnya TUHAN semesta alam itu, betapa kudusnya Ia di tempat maha tinggi, akan tetapi memiliki kasih karunia yang mampu menyelamatkan semua umat manusia. Seraphim dan Malaikat-malaikat ALLAH lain di surga tahu benar bagaimana cara memuji dan menyembah Dia di tempat kudusNya, memiliki ketaatan dan takut akan Dia. Sedang saya, disini, terdiam dan kadang terlupa bahkan menaikkan syukur atas hari yang Ia berikan. Kudus ...

Bahan Renungan Saya

Saya seringkali ingin menulis, tapi ternyata tidak jadi dan tiba-tiba tersendat. Umumnya ketika menulis, hambatan utama saya adalah pikiran-pikiran yang mengatakan bahwa saya tidak bisa menulis seperti ini dan seperti itu karena saya pun masih melakukan hal yang sama.  Tapi satu hal lain yang dikatakan ialah : Permulaan hikmat ialah takut akan Tuhan, ayat yang benar-benar saya sukai semenjak saya menyadari bahwa bagi diri saya sendiri, saya tidak akan sanggup menjalani kehidupan saya yang sekarang. Bagi saya, begitupun dengan menulis dan berkata-kata. Saya tidak tahu sampai mana kata-kata dan pikiran saya berdampak bagi orang lain. Tapi justru yang menjadi masalah lain adalah saya lantas kemudian berpikiran untuk bagaimana orang lain benar-benar mendengarkan saya.  Saya pernah tertegun ketika salah seorang berkata: yang penting, kita jangan memberi dari bejana yang kosong. Menganalisa setiap perkataan dan jalan pikiran orang pun jadi ha...

Ketika saya marah, saya menulis begini:

Tuhan, devi tersiksa dengan pikiran devi sendiri, devi pingin nangis tapi devi sadar bahwa devi ga boleh membiarkan kemarahan itu ada. Tersiksa karena rasa ingin memaafkan itu datang begitu cepat setelah aku mendapatkan masalah. Aku bergulat dengan pikiranku sendiri dan tidak membiarkan kemarahan itu pergi dulu. Aku tersiksa dengan pikiranku sendiri yang mengintimidasi akan saya harus begitu-begini. Apakah ini sesuai dengan kehendakMu, Bapa? Badanku bergetar karena kemarahanku atas diriku sendiri, dan berpikir apa yang harus kulakukan untuk membuat mereka sadar bahwa aku sedang marah? Aku mengasihi mereka dan ingin mereka berubah, tapi kembali lagi aku bergulat dengan pikiranku. Aku marah dan ingin orang lain berubah, tapi aku.. aku berdosa mengucapkan hal ini Tuhan. Karena hanya Roh Kuduslah yang mampu mengubahkan mereka. Apa yang harus kulakukan Tuhan? Penawar kemarahan itu sangat baik bagiku (penyembahan), tapi akankah mereka memiliki kerinduan yang sama ketika merek...

Allah peduli

Banyak perkara, yang tak dapat kumengerti Mengapakah harus terjadi, di dalam kehidupan ini Satu perkara, yang kusimpan dalam hati Tiada sesuatu kan terjadi, tanpa Allah peduli Saya selalu suka lagu ini, benar-benar menenangkan saya di situasi apapun. Banyak hal yang terkadang membuat kita meragukan rancangan Tuhan dan segala sesuatu yang Dia perbuat. Lagu ini benar-benar bekerja dalam minggu saya kali ini, dimana Tuhan percayakan banyak hal buat saya. Mulai dari keluarga saya, cinta, teman-teman, kuliah, dan yang terutama, kehidupan rohani saya. Biasanya, saya menulis tidak dengan lugas dan terkadang mencari analogi untuk mendukung tulisan saya. Akan tetapi, untuk yang kali ini, saya mau tekankan dengan lugas, bahwa saya diberkati dan mendapati bagian lain dari karakter saya yang diubahkan. Minggu lalu, ketika saya bangun, saya diberi tahu bahwa nenek saya (berumur 71 tahun) muntah dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Untungnya...

Hikmat

Mmm, dimulai dengan alokasi waktu yang sangat jarang saya lakukan, yaitu: memikirkan apa yang menjadi dasar utama seorang teman memiliki konsep berpikir yang berbeda dengan saya? Kenapa hal yang saya anggap ideal terkadang tidak logis bagi orang lain dan sebaliknya? Kenapa urutan berpikir saya dan orang lain berbeda? Mengapa karakter yang diubahkan lewat pendewasaan secara detilnya mengalami spesifikasi bagi tiap orang?  Berpikir bahwa diri kita lebih baik dalam menyelesaikan masalah karena kita menganggap diri memiliki metoda paling baik dan terkadang secara tidak sadar memaksakannya kepada orang lain seringkali menjadi tuntutan bagi kebanyakan orang, termasuk saya tentunya. Hal ini menjadi beban pikiran saya untuk beberapa waktu –hahaha, hal yang sebenarnya tidak penting untuk dilakukan- akan tetapi, bagi saya itu penting, karena bagi saya, itu membuka kotak-kotak yang telah tersekat sebelumnya dalam akal saya. Oh ya, sekedar catatan saja sebelum melangkah lebih...

3 hal tersulit yang harus dikatakan

Diinspirasi oleh ucapan kakek tadi malam: “Kalau kalian potong nadi Bapak ini, boleh kalian timbang dan ambil, bagi rata. Memangnya seberapa jauh kalian bisa minta sama Tuhan untuk menggantikan doa kami selama ini untuk kalian? Kalau kalian pergi dari rumah inipun tanpa tempat berteduh, hati kami menangis, Amang.” Dan didedikasikan untuk kedua orang tua saya: “Saya percaya bahwa saya ditempatkan dalam keluarga yang tepat. Bukan karena kebetulan, tapi kami disatukan karena Tuhan mau kami saling melengkapi.” Hidup dan dibesarkan jauh dari orangtua dan bersikeras untuk menjalani hidup saya dengan bekal kepercayaan dari mereka, berdampak bagi karakter dan prinsip yang terbangun. Mengerti bahwa setiap detik dalam hidup mereka, mereka tujukan bagi saya dan adik-adik saya, merupakan suatu pengalaman batin yang mengharukan. Saya ingat suatu kali ibu saya sewaktu saya masih kecil tertawa keras saat saya mengucapkan ejaan pertama saya, yaitu “S-O so, L-O lo, Solo” ketika saya m...